Sel (biologi)
Dalam biologi, sel
adalah kumpulan materi paling sederhana yang
dapat hidup dan merupakan unit penyusun semua makhluk hidup. Sel mampu melakukan semua aktivitas
kehidupan dan sebagian besar reaksi kimia
untuk mempertahankan kehidupan berlangsung di dalam sel. Kebanyakan makhluk
hidup tersusun atas sel tunggal, atau disebut organisme
uniseluler, misalnya bakteri dan ameba. Makhluk hidup lainnya, termasuk tumbuhan, hewan,
dan manusia, merupakan organisme multiseluler yang terdiri dari banyak tipe
sel terspesialisasi dengan fungsinya masing-masing.Tubuh manusia, misalnya,
tersusun atas lebih dari 10 sel. Namun demikian, seluruh tubuh semua organisme
berasal dari hasil pembelahan satu sel.
Contohnya, tubuh bakteri berasal dari pembelahan sel bakteri induknya,
sementara tubuh tikus berasal dari pembelahan sel telur induknya yang sudah dibuahi.
Penemuan awal Mikroskop
majemuk dengan dua lensa telah ditemukan pada
akhir abad ke-16 dan selanjutnya dikembangkan
di Belanda, Italia,
dan Inggris. Hingga pertengahan abad ke-17 mikroskop sudah memiliki kemampuan
perbesaran citra sampai 30 kali. Ilmuwan Inggris Robert
Hooke kemudian merancang mikroskop majemuk yang memiliki sumber cahaya
sendiri sehingga lebih mudah digunakan. Ia mengamati irisan-irisan tipis gabus melalui mikroskop dan menjabarkan struktur
mikroskopik gabus sebagai "berpori-pori seperti sarang lebah tetapi
pori-porinya tidak beraturan" dalam makalah yang diterbitkan pada tahun
1665. Hooke menyebut pori-pori itu cells karena mirip dengan sel (bilik
kecil) di dalam biara atau penjara. Yang sebenarnya dilihat oleh Hooke adalah dinding sel kosong yang melingkupi sel-sel mati pada
gabus yang berasal dari kulit pohon ek. Ia
juga mengamati bahwa di dalam tumbuhan hijau terdapat sel yang berisi cairan.
Hampir semua sel prokariotik memiliki selubung sel di luar
membran selnya. Jika selubung tersebut mengandung suatu lapisan kaku yang
terbuat dari karbohidrat atau kompleks
karbohidrat-protein, peptidoglikan, lapisan
itu disebut sebagai dinding sel. Kebanyakan bakteri memiliki suatu membran luar yang menutupi
lapisan peptidoglikan, dan ada pula bakteri yang memiliki selubung sel dari protein. Sementara itu, kebanyakan selubung sel arkea berbahan protein, walaupun ada juga yang
berbahan peptidoglikan. Selubung sel prokariota mencegah sel pecah akibat tekanan osmotik pada lingkungan yang memiliki konsentrasi lebih rendah daripada isi sel.
Selain nukleus, sejumlah organel lain dimiliki hampir semua
sel eukariota, yaitu mitokondria, tempat
sebagian besar metabolisme energi sel
terjadi; retikulum endoplasma, suatu
jaringan membran tempat sintesis glikoprotein
dan lipid; badan
Golgi, yang mengarahkan hasil sintesis sel ke tempat tujuannya;
serta peroksisom, tempat perombakan asam lemak dan asam amino.
Lisosom, yang menguraikan komponen sel yang
rusak dan benda asing yang dimasukkan oleh sel, ditemukan pada sel hewan, tetapi tidak pada sel tumbuhan. Kloroplas,
tempat terjadinya fotosintesis, hanya
ditemukan pada sel-sel tertentu daun tumbuhan
dan sejumlah organisme uniseluler. Baik sel tumbuhan
maupun sejumlah eukariota uniseluler memiliki satu atau lebih vakuola, yaitu organel tempat menyimpan nutrien dan
limbah serta tempat terjadinya sejumlah reaksi penguraian.
Membran sel yang membatasi
sel disebut sebagai membran plasma dan berfungsi sebagai rintangan selektif
yang memungkinkan aliran oksigen, nutrien, dan
limbah yang cukup untuk melayani seluruh volume sel. Membran sel juga berperan
dalam sintesis ATP, pensinyalan
sel, dan adhesi sel.
Nukleus mengandung
sebagian besar gen yang mengendalikan sel eukariota (sebagian lain gen terletak di dalam mitokondria dan kloroplas).
Dengan diameter rata-rata 5 µm, organel ini
umumnya adalah organel yang paling mencolok dalam sel eukariota. Kebanyakan sel
memiliki satu nukleus, namun ada pula yang memiliki banyak nukleus, contohnya
sel otot rangka, dan ada pula yang tidak
memiliki nukleus, contohnya sel darah merah
matang yang kehilangan nukleusnya saat berkembang.
Berbagai membran dalam sel
eukariota merupakan bagian dari sistem
endomembran. Membran ini dihubungkan melalui sambungan fisik langsung atau
melalui transfer antarsegmen membran dalam bentuk vesikel
(gelembung yang dibungkus membran) kecil. Sistem endomembran mencakup selubung
nukleus, retikulum endoplasma, badan Golgi, lisosom,
berbagai jenis vakuola, dan membran plasma.
Sistem ini memiliki berbagai fungsi, termasuk sintesis
dan modifikasi protein serta transpor protein ke membran dan organel atau ke luar sel, sintesis lipid, dan penetralan beberapa jenis racun.
Sebagian besar sel eukariota
mengandung banyak mitokondria, yang menempati
sampai 25 persen volume sitoplasma. Organel ini termasuk organel yang besar, secara umum
hanya lebih kecil dari nukleus, vakuola, dan kloroplas.
Nama mitokondria berasal dari penampakannya yang seperti benang (bahasa Yunani
mitos, 'benang') di bawah mikroskop cahaya.
Kloroplas merupakan salah
satu jenis organel yang disebut plastid pada tumbuhan
dan alga.Kloroplas mengandung klorofil, pigmen
hijau yang menangkap energi cahaya untuk fotosintesis,
yaitu serangkaian reaksi yang mengubah energi cahaya menjadi energi kimiawi
yang disimpan dalam molekul karbohidrat dan senyawa organik lain.
Dalam biologi, sel
adalah kumpulan materi paling sederhana yang
dapat hidup dan merupakan unit penyusun semua makhluk hidup. Sel mampu melakukan semua aktivitas
kehidupan dan sebagian besar reaksi kimia
untuk mempertahankan kehidupan berlangsung di dalam sel. Kebanyakan makhluk
hidup tersusun atas sel tunggal, atau disebut organisme
uniseluler, misalnya bakteri dan ameba. Makhluk hidup lainnya, termasuk tumbuhan, hewan,
dan manusia, merupakan organisme multiseluler yang terdiri dari banyak tipe
sel terspesialisasi dengan fungsinya masing-masing.Tubuh manusia, misalnya,
tersusun atas lebih dari 10 sel. Namun demikian, seluruh tubuh semua organisme
berasal dari hasil pembelahan satu sel.
Contohnya, tubuh bakteri berasal dari pembelahan sel bakteri induknya,
sementara tubuh tikus berasal dari pembelahan sel telur induknya yang sudah dibuahi.
Sel-sel pada organisme multiseluler tidak akan bertahan
lama jika masing-masing berdiri sendiri. Sel yang sama dikelompokkan menjadi jaringan, yang membangun organ dan kemudian sistem organ yang membentuk tubuh organisme
tersebut. Contohnya, sel otot jantung membentuk jaringan otot jantung pada organ jantung
yang merupakan bagian dari sistem organ peredaran
darah pada tubuh manusia. Sementara itu, sel sendiri tersusun atas
komponen-komponen yang disebut organel.
Sel terkecil yang dikenal manusia ialah bakteri Mycoplasma dengan diameter 0,0001 sampai
0,001 mm, sedangkan salah satu sel tunggal
yang bisa dilihat dengan mata telanjang ialah telur ayam
yang belum dibuahi. Akan tetapi, sebagian besar sel berdiameter antara 1 sampai
100 µm (0,001–0,1 mm) sehingga hanya bisa
dilihat dengan mikroskop. Penemuan dan kajian
awal tentang sel memperoleh kemajuan sejalan dengan penemuan dan penyempurnaan
mikroskop pada abad ke-17. Robert Hooke pertama kali mendeskripsikan dan
menamai sel pada tahun 1665 ketika ia mengamati suatu irisan gabus (kulit
batang pohon ek) dengan mikroskop yang
memiliki perbesaran 30 kali. Namun demikian, teori sel sebagai unit kehidupan
baru dirumuskan hampir dua abad setelah itu oleh Matthias
Schleiden dan Theodor Schwann.
Selanjutnya, sel dikaji dalam cabang biologi yang disebut biologi sel.
Sejarah
Penemuan awal Mikroskop
majemuk dengan dua lensa telah ditemukan pada
akhir abad ke-16 dan selanjutnya dikembangkan
di Belanda, Italia,
dan Inggris. Hingga pertengahan abad ke-17 mikroskop sudah memiliki kemampuan
perbesaran citra sampai 30 kali. Ilmuwan Inggris Robert
Hooke kemudian merancang mikroskop majemuk yang memiliki sumber cahaya
sendiri sehingga lebih mudah digunakan. Ia mengamati irisan-irisan tipis gabus melalui mikroskop dan menjabarkan struktur
mikroskopik gabus sebagai "berpori-pori seperti sarang lebah tetapi
pori-porinya tidak beraturan" dalam makalah yang diterbitkan pada tahun
1665. Hooke menyebut pori-pori itu cells karena mirip dengan sel (bilik
kecil) di dalam biara atau penjara. Yang sebenarnya dilihat oleh Hooke adalah dinding sel kosong yang melingkupi sel-sel mati pada
gabus yang berasal dari kulit pohon ek. Ia
juga mengamati bahwa di dalam tumbuhan hijau terdapat sel yang berisi cairan.
Pada masa yang sama di Belanda,
Antony van Leeuwenhoek, seorang pedagang kain, menciptakan mikroskopnya sendiri yang
berlensa satu dan menggunakannya untuk mengamati berbagai hal. Ia berhasil
melihat sel darah merah, spermatozoid, khamir
bersel tunggal, protozoa, dan bahkan bakteri. Pada tahun 1673 ia mulai mengirimkan surat
yang memerinci kegiatannya kepada Royal Society,
perkumpulan ilmiah Inggris, yang lalu
menerbitkannya. Pada salah satu suratnya, Leeuwenhoek menggambarkan sesuatu
yang bergerak-gerak di dalam air liur yang
diamatinya di bawah mikroskop. Ia menyebutnya diertjen atau dierken
(bahasa Belanda: 'hewan kecil', diterjemahkan
sebagai animalcule dalam bahasa Inggris
oleh Royal Society), yang diyakini sebagai bakteri oleh ilmuwan modern.
Pada tahun 1675–1679, ilmuwan Italia
Marcello Malpighi menjabarkan unit penyusun
tumbuhan yang ia sebut utricle ('kantong kecil'). Menurut pengamatannya,
setiap rongga tersebut berisi cairan dan dikelilingi oleh dinding yang kokoh. Nehemiah Grew dari Inggris juga menjabarkan sel
tumbuhan dalam tulisannya yang diterbitkan pada tahun 1682, dan ia berhasil
mengamati banyak struktur hijau kecil di dalam sel-sel daun tumbuhan, yaitu kloroplas.
Teori sel
Beberapa ilmuwan pada abad ke-18 dan awal abad ke-19 telah berspekulasi
atau mengamati bahwa tumbuhan dan hewan tersusun atas sel, namun hal tersebut masih
diperdebatkan pada saat itu. Pada tahun 1838, ahli botani
Jerman Matthias
Jakob Schleiden menyatakan bahwa semua tumbuhan
terdiri atas sel dan bahwa semua aspek fungsi tubuh tumbuhan pada dasarnya
merupakan manifestasi aktivitas sel. Ia juga menyatakan pentingnya nukleus (yang ditemukan Robert
Brown pada tahun 1831) dalam fungsi dan pembentukan sel, namun ia salah
mengira bahwa sel terbentuk dari nukleus. Pada tahun 1839, Theodor Schwann, yang setelah berdiskusi dengan
Schleiden menyadari bahwa ia pernah mengamati nukleus sel hewan sebagaimana
Schleiden mengamatinya pada tumbuhan, menyatakan bahwa semua bagian tubuh hewan juga tersusun atas sel. Menurutnya, prinsip
universal pembentukan berbagai bagian tubuh semua organisme adalah pembentukan
sel.
Yang kemudian memerinci teori sel sebagaimana yang dikenal
dalam bentuk modern ialah Rudolf Virchow,
seorang ilmuwan Jerman lainnya. Pada mulanya ia sependapat dengan Schleiden
mengenai pembentukan sel. Namun, pengamatan mikroskopis atas berbagai proses
patologis membuatnya menyimpulkan hal yang sama dengan yang telah disimpulkan
oleh Robert Remak dari pengamatannya terhadap sel darah merah dan embrio,
yaitu bahwa sel berasal dari sel lain melalui pembelahan
sel. Pada tahun 1855, Virchow menerbitkan makalahnya yang memuat motonya
yang terkenal, omnis cellula e cellula (semua sel berasal dari sel).
Perkembangan biologi sel
Antara tahun 1875 dan 1895, terjadi berbagai penemuan
mengenai fenomena seluler dasar, seperti mitosis,
meiosis, dan fertilisasi,
serta berbagai organel penting, seperti mitokondria, kloroplas,
dan badan Golgi. Lahirlah bidang yang
mempelajari sel, yang saat itu disebut sitologi.
Perkembangan teknik baru, terutama fraksinasi sel dan mikroskopi
elektron, memungkinkan sitologi dan biokimia
melahirkan bidang baru yang disebut biologi sel.
Pada tahun 1960, perhimpunan ilmiah American Society
for Cell Biology didirikan di New York,
Amerika Serikat, dan tidak lama setelahnya,
jurnal ilmiah Journal of Biochemical and Biophysical Cytology berganti
nama menjadi Journal of Cell Biology.
Pada akhir dekade 1960-an, biologi sel telah menjadi suatu disiplin ilmu yang mapan, dengan perhimpunan dan publikasi
ilmiahnya sendiri serta memiliki misi mengungkapkan mekanisme fungsi organel
sel.
Struktur
Semua sel dibatasi oleh suatu membran
yang disebut membran plasma, sementara daerah di dalam sel disebut sitoplasma. Setiap sel, pada tahap tertentu dalam
hidupnya, mengandung DNA sebagai materi yang
dapat diwariskan dan mengarahkan aktivitas sel tersebut. Selain itu, semua sel
memiliki struktur yang disebut ribosom yang
berfungsi dalam pembuatan protein yang akan
digunakan sebagai katalis pada berbagai reaksi
kimia dalam sel tersebut.
Setiap organisme tersusun
atas salah satu dari dua jenis sel yang secara struktur berbeda: sel prokariotik atau sel eukariotik.
Kedua jenis sel ini dibedakan berdasarkan posisi DNA
di dalam sel; sebagian besar DNA pada eukariota terselubung membran organel
yang disebut nukleus atau inti sel, sedangkan
prokariota tidak memiliki nukleus. Hanya bakteri
dan arkea yang memiliki sel prokariotik,
sementara protista, tumbuhan,
jamur, dan hewan
memiliki sel eukariotik.
Sel prokariota
Pada sel prokariota (dari bahasa Yunani, pro, 'sebelum' dan karyon,
'biji'), tidak ada membran yang memisahkan DNA
dari bagian sel lainnya, dan daerah tempat DNA terkonsentrasi di sitoplasma
disebut nukleoid. Kebanyakan prokariota merupakan organisme uniseluler dengan sel berukuran kecil
(berdiameter 0,7–2,0 µm dan volumenya sekitar 1 µm3) serta umumnya
terdiri dari selubung sel, membran sel, sitoplasma, nukleoid, dan beberapa
struktur lain.
Hampir semua sel prokariotik memiliki selubung sel di luar
membran selnya. Jika selubung tersebut mengandung suatu lapisan kaku yang
terbuat dari karbohidrat atau kompleks
karbohidrat-protein, peptidoglikan, lapisan
itu disebut sebagai dinding sel. Kebanyakan bakteri memiliki suatu membran luar yang menutupi
lapisan peptidoglikan, dan ada pula bakteri yang memiliki selubung sel dari protein. Sementara itu, kebanyakan selubung sel arkea berbahan protein, walaupun ada juga yang
berbahan peptidoglikan. Selubung sel prokariota mencegah sel pecah akibat tekanan osmotik pada lingkungan yang memiliki konsentrasi lebih rendah daripada isi sel.
Sejumlah prokariota memiliki struktur lain di luar selubung
selnya. Banyak jenis bakteri memiliki lapisan di luar dinding sel yang disebut kapsul
yang membantu sel bakteri melekat pada permukaan benda dan sel lain. Kapsul
juga dapat membantu sel bakteri menghindar dari sel kekebalan
tubuh manusia jenis tertentu. Selain itu, sejumlah bakteri melekat pada
permukaan benda dan sel lain dengan benang protein yang disebut pilus (jamak: pili) dan fimbria
(jamak: fimbriae). Banyak jenis bakteri bergerak menggunakan flagelum (jamak: flagela) yang melekat pada
dinding selnya dan berputar seperti motor.
Prokariota umumnya memiliki satu molekul DNA dengan
struktur lingkar yang terkonsentrasi pada nukleoid. Selain itu, prokariota
sering kali juga memiliki bahan genetik tambahan yang disebut plasmid yang juga berstruktur DNA lingkar. Pada
umumnya, plasmid tidak dibutuhkan oleh sel untuk pertumbuhan meskipun sering
kali plasmid membawa gen tertentu yang memberikan keuntungan tambahan pada
keadaan tertentu, misalnya resistansi terhadap
antibiotik.
Prokariota juga memiliki sejumlah protein struktural yang disebut sitoskeleton, yang pada mulanya dianggap hanya ada
pada eukariota. Protein skeleton tersebut
meregulasi pembelahan sel dan berperan
menentukan bentuk sel.
Sel eukariota
Tidak seperti prokariota,
sel eukariota (bahasa
Yunani, eu, 'sebenarnya' dan karyon) memiliki nukleus. Diameter sel eukariota biasanya 10 hingga
100 µm, sepuluh kali lebih besar daripada bakteri.
Sitoplasma eukariota adalah daerah di antara
nukleus dan membran sel. Sitoplasma ini terdiri
dari medium semicair yang disebut sitosol,
yang di dalamnya terdapat organel-organel
dengan bentuk dan fungsi terspesialisasi serta sebagian besar tidak dimiliki
prokariota. Kebanyakan organel dibatasi oleh satu lapis membran, namun ada pula
yang dibatasi oleh dua membran, misalnya nukleus.
Selain nukleus, sejumlah organel lain dimiliki hampir semua
sel eukariota, yaitu mitokondria, tempat
sebagian besar metabolisme energi sel
terjadi; retikulum endoplasma, suatu
jaringan membran tempat sintesis glikoprotein
dan lipid; badan
Golgi, yang mengarahkan hasil sintesis sel ke tempat tujuannya;
serta peroksisom, tempat perombakan asam lemak dan asam amino.
Lisosom, yang menguraikan komponen sel yang
rusak dan benda asing yang dimasukkan oleh sel, ditemukan pada sel hewan, tetapi tidak pada sel tumbuhan. Kloroplas,
tempat terjadinya fotosintesis, hanya
ditemukan pada sel-sel tertentu daun tumbuhan
dan sejumlah organisme uniseluler. Baik sel tumbuhan
maupun sejumlah eukariota uniseluler memiliki satu atau lebih vakuola, yaitu organel tempat menyimpan nutrien dan
limbah serta tempat terjadinya sejumlah reaksi penguraian.
Jaringan protein serat sitoskeleton
mempertahankan bentuk sel dan mengendalikan pergerakan struktur di dalam sel
eukariota. Sentriol, yang hanya ditemukan pada
sel hewan di dekat nukleus, juga terbuat dari sitoskeleton.
Dinding sel yang kaku,
terbuat dari selulosa dan polimer lain, mengelilingi sel tumbuhan dan
membuatnya kuat dan tegar. Fungi juga memiliki
dinding sel, namun komposisinya berbeda dari dinding sel bakteri maupun
tumbuhan. Di antara dinding sel tumbuhan yang bersebelahan terdapat saluran
yang disebut plasmodesmata.
Membran
Membran sel yang membatasi
sel disebut sebagai membran plasma dan berfungsi sebagai rintangan selektif
yang memungkinkan aliran oksigen, nutrien, dan
limbah yang cukup untuk melayani seluruh volume sel. Membran sel juga berperan
dalam sintesis ATP, pensinyalan
sel, dan adhesi sel.
Membran sel berupa lapisan sangat tipis yang terbentuk dari
molekul lipid dan protein.
Membran sel bersifat dinamik dan kebanyakan molekulnya dapat bergerak di
sepanjang bidang membran. Molekul lipid membran tersusun dalam dua lapis dengan
tebal sekitar 5 nm yang menjadi penghalang
bagi kebanyakan molekul hidrofilik.
Molekul-molekul protein yang menembus lapisan ganda lipid tersebut berperan
dalam hampir semua fungsi lain membran, misalnya mengangkut molekul tertentu
melewati membran. Ada pula protein yang menjadi pengait struktural ke sel lain,
atau menjadi reseptor yang mendeteksi dan
menyalurkan sinyal kimiawi dalam lingkungan sel. Diperkirakan bahwa sekitar 30%
protein yang dapat disintesis sel hewan merupakan protein membran.
Nukleus
Nukleus mengandung
sebagian besar gen yang mengendalikan sel eukariota (sebagian lain gen terletak di dalam mitokondria dan kloroplas).
Dengan diameter rata-rata 5 µm, organel ini
umumnya adalah organel yang paling mencolok dalam sel eukariota. Kebanyakan sel
memiliki satu nukleus, namun ada pula yang memiliki banyak nukleus, contohnya
sel otot rangka, dan ada pula yang tidak
memiliki nukleus, contohnya sel darah merah
matang yang kehilangan nukleusnya saat berkembang.
Selubung nukleus melingkupi nukleus dan memisahkan isinya
(yang disebut nukleoplasma) dari sitoplasma.
Selubung ini terdiri dari dua membran yang
masing-masing merupakan lapisan ganda lipid dengan protein terkait. Membran
luar dan dalam selubung nukleus dipisahkan oleh ruangan sekitar 20–40 nm.
Selubung nukleus memiliki sejumlah pori yang berdiameter sekitar 100 nm dan
pada bibir setiap pori, kedua membran selubung nukleus menyatu.
Di dalam nukleus, DNA
terorganisasi bersama dengan protein menjadi kromatin. Sewaktu sel siap untuk membelah, kromatin kusut yang berbentuk benang akan
menggulung, menjadi cukup tebal untuk dibedakan melalui mikroskop sebagai struktur terpisah yang disebut kromosom.
Struktur yang menonjol di dalam nukleus sel yang sedang
tidak membelah ialah nukleolus, yang merupakan
tempat sejumlah komponen ribosom disintesis
dan dirakit. Komponen-komponen ini kemudian dilewatkan melalui pori nukleus ke
sitoplasma, tempat semuanya bergabung menjadi ribosom. Kadang-kadang terdapat
lebih dari satu nukleolus, bergantung pada spesiesnya
dan tahap reproduksi sel tersebut.
Nukleus mengedalikan sintesis
protein di dalam sitoplasma dengan cara mengirim molekul pembawa pesan
berupa RNA, yaitu mRNA,
yang disintesis berdasarkan "pesan" gen pada DNA. RNA
ini lalu dikeluarkan ke sitoplasma melalui pori nukleus dan melekat pada
ribosom, tempat pesan genetik tersebut diterjemahkan
menjadi urutan asam amino protein yang
disintesis.
Ribosom
Ribosom merupakan tempat
sel membuat protein. Sel dengan laju sintesis protein yang tinggi memiliki banyak sekali
ribosom, contohnya sel hati manusia yang
memiliki beberapa juta ribosom. Ribosom sendiri tersusun atas berbagai jenis
protein dan sejumlah molekul RNA.
Ribosom eukariota lebih
besar daripada ribosom prokariota, namun
keduanya sangat mirip dalam hal struktur dan fungsi. Keduanya terdiri dari satu
subunit besar dan satu subunit kecil yang bergabung membentuk ribosom lengkap
dengan massa beberapa juta dalton.
Pada eukariota, ribosom dapat ditemukan bebas di sitosol atau terikat pada bagian luar retikulum endoplasma. Sebagian besar protein yang
diproduksi ribosom bebas akan berfungsi di dalam sitosol, sementara ribosom
terikat umumnya membuat protein yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam membran, untuk dibungkus di dalam organel tertentu
seperti lisosom, atau untuk dikirim ke luar
sel. Ribosom bebas dan terikat memiliki struktur identik dan dapat saling bertukar
tempat. Sel dapat menyesuaikan jumlah relatif masing-masing ribosom begitu
metabolismenya berubah.
Sistem endomembran
Berbagai membran dalam sel
eukariota merupakan bagian dari sistem
endomembran. Membran ini dihubungkan melalui sambungan fisik langsung atau
melalui transfer antarsegmen membran dalam bentuk vesikel
(gelembung yang dibungkus membran) kecil. Sistem endomembran mencakup selubung
nukleus, retikulum endoplasma, badan Golgi, lisosom,
berbagai jenis vakuola, dan membran plasma.
Sistem ini memiliki berbagai fungsi, termasuk sintesis
dan modifikasi protein serta transpor protein ke membran dan organel atau ke luar sel, sintesis lipid, dan penetralan beberapa jenis racun.Retikulum endoplasma
Retikulum endoplasma
merupakan perluasan selubung nukleus yang terdiri dari jaringan (reticulum
= 'jaring kecil') saluran bermembran dan vesikel yang saling terhubung. Terdapat dua bentuk
retikulum endoplasma, yaitu retikulum endoplasma kasar dan retikulum endoplasma
halus.
Retikulum endoplasma kasar disebut demikian karena
permukaannya ditempeli banyak ribosom. Ribosom
yang mulai mensintesis protein dengan tempat tujuan tertentu, seperti organel
tertentu atau membran, akan menempel pada retikulum endoplasma kasar. Protein
yang terbentuk akan terdorong ke bagian dalam retikulum endoplasma yang disebut
lumen. Di dalam lumen, protein tersebut mengalami pelipatan dan
dimodifikasi, misalnya dengan penambahan karbohidrat
untuk membentuk glikoprotein. Protein tersebut
lalu dipindahkan ke bagian lain sel di dalam vesikel
kecil yang menyembul keluar dari retikulum endoplasma, dan bergabung dengan
organel yang berperan lebih lanjut dalam modifikasi dan distribusinya.
Kebanyakan protein menuju ke badan Golgi, yang
akan mengemas dan memilahnya untuk diantarkan ke tujuan akhirnya.
Retikulum endoplasma halus tidak memiliki ribosom pada
permukaannya. Retikulum endoplasma halus berfungsi, misalnya, dalam sintesis lipid komponen membran sel. Dalam jenis sel
tertentu, misalnya sel hati, membran retikulum
endoplasma halus mengandung enzim yang
mengubah obat-obatan, racun, dan produk sampingan beracun dari metabolisme sel menjadi senyawa-senyawa yang kurang
beracun atau lebih mudah dikeluarkan tubuh.
Badan Golgi
Badan Golgi (dinamai
menurut nama penemunya, Camillo Golgi)
tersusun atas setumpuk kantong pipih dari membran
yang disebut sisterna. Biasanya terdapat tiga sampai delapan sisterna,
tetapi ada sejumlah organisme yang memiliki badan Golgi dengan puluhan
sisterna. Jumlah dan ukuran badan Golgi bergantung pada jenis sel dan aktivitas
metabolismenya. Sel yang aktif melakukan sekresi protein
dapat memiliki ratusan badan Golgi. Organel ini biasanya terletak di antara retikulum endoplasma dan membran plasma.
Sisi badan Golgi yang paling dekat dengan nukleus disebut sisi cis, sementara sisi yang
menjauhi nukleus disebut sisi trans. Ketika tiba di sisi cis, protein dimasukkan ke dalam lumen sisterna. Di dalam
lumen, protein tersebut dimodifikasi, misalnya dengan penambahan karbohidrat, ditandai dengan penanda kimiawi, dan
dipilah-pilah agar nantinya dapat dikirim ke tujuannya masing-masing.
Badan Golgi mengatur pergerakan berbagai jenis protein; ada
yang disekresikan ke luar sel, ada yang digabungkan ke membran plasma sebagai
protein transmembran, dan ada pula yang ditempatkan di dalam lisosom. Protein yang disekresikan dari sel diangkut
ke membran plasma di dalam vesikel sekresi,
yang melepaskan isinya dengan cara bergabung dengan membran plasma dalam proses
eksositosis. Proses sebaliknya, endositosis, dapat terjadi bila membran plasma
mencekung ke dalam sel dan membentuk vesikel endositosis yang dibawa ke badan
Golgi atau tempat lain, misalnya lisosom.
Lisosom
Lisosom pada sel hewan merupakan vesikel
yang memuat lebih dari 30 jenis enzim
hidrolitik untuk menguraikan berbagai molekul kompleks. Sel menggunakan kembali
subunit molekul yang sudah diuraikan lisosom itu. Bergantung pada zat yang
diuraikannya, lisosom dapat memiliki berbagai ukuran dan bentuk. Organel ini
dibentuk sebagai vesikel yang melepaskan diri dari badan
Golgi.
Lisosom menguraikan molekul makanan yang masuk ke dalam sel
melalui endositosis ketika suatu vesikel
endositosis bergabung dengan lisosom. Dalam proses yang disebut autofagi, lisosom mencerna organel yang tidak berfungsi dengan benar. Lisosom
juga berperan dalam fagositosis, proses yang
dilakukan sejumlah jenis sel untuk menelan bakteri
atau fragmen sel lain untuk diuraikan. Contoh sel yang melakukan fagositosis
ialah sejenis sel darah putih yang disebut fagosit, yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh.
Vakuola
Kebanyakan fungsi lisosom
sel hewan dilakukan oleh vakuola pada sel tumbuhan.
Membran vakuola, yang merupakan bagian dari
sistem endomembran, disebut tonoplas. Vakuola berasal dari kata bahasa Latin vacuolum yang berarti 'kosong'
dan dinamai demikian karena organel ini tidak
memiliki struktur internal. Umumnya vakuola lebih besar daripada vesikel, dan kadang kala terbentuk dari gabungan
banyak vesikel.
Sel tumbuhan muda berukuran kecil dan mengandung banyak
vakuola kecil yang kemudian bergabung membentuk suatu vakuola sentral seiring
dengan penambahan air ke dalamnya. Ukuran sel
tumbuhan diperbesar dengan menambahkan air ke dalam vakuola sentral tersebut.
Vakuola sentral juga mengandung cadangan makanan, garam-garam,
pigmen, dan limbah metabolisme. Zat yang
beracun bagi herbivora dapat pula disimpan
dalam vakuola sebagai mekanisme pertahanan. Vakuola juga berperan penting dalam
mempertahankan tekanan turgor tumbuhan.
Vakuola memiliki banyak fungsi lain dan juga dapat
ditemukan pada sel hewan dan protista
uniseluler. Kebanyakan protozoa memiliki
vakuola makanan, yang bergabung dengan lisosom agar makanan di dalamnya dapat
dicerna. Beberapa jenis protozoa juga memiliki vakuola kontraktil, yang
mengeluarkan kelebihan air dari sel.
Mitokondria
Sebagian besar sel eukariota
mengandung banyak mitokondria, yang menempati
sampai 25 persen volume sitoplasma. Organel ini termasuk organel yang besar, secara umum
hanya lebih kecil dari nukleus, vakuola, dan kloroplas.
Nama mitokondria berasal dari penampakannya yang seperti benang (bahasa Yunani
mitos, 'benang') di bawah mikroskop cahaya.
.
|
Organel ini memiliki dua macam membran,
yaitu membran luar dan membran dalam, yang dipisahkan oleh ruang antarmembran.
Luas permukaan membran dalam lebih besar daripada membran luar karena memiliki
lipatan-lipatan, atau krista, yang menyembul ke dalam matriks,
atau ruang dalam mitokondria.
Mitokondria adalah tempat berlangsungnya respirasi seluler, yaitu suatu proses kimiawi yang
memberi energi pada sel. Karbohidrat dan lemak
merupakan contoh molekul makanan berenergi tinggi yang dipecah menjadi air dan karbon dioksida
oleh reaksi-reaksi di dalam mitokondria, dengan pelepasan energi. Kebanyakan
energi yang dilepas dalam proses itu ditangkap oleh molekul yang disebut ATP. Mitokondria-lah yang menghasilkan sebagian
besar ATP sel. Energi kimiawi ATP nantinya dapat digunakan untuk menjalankan
berbagai reaksi kimia dalam sel. Sebagian besar tahap pemecahan molekul makanan
dan pembuatan ATP tersebut dilakukan oleh enzim-enzim
yang terdapat di dalam krista dan matriks mitokondria.
Mitokondria memperbanyak diri secara independen dari
keseluruhan bagian sel lain. Organel ini memiliki DNA
sendiri yang menyandikan sejumlah protein
mitokondria, yang dibuat pada ribosomnya
sendiri yang serupa dengan ribosom prokariota.
Kloroplas
Kloroplas merupakan salah
satu jenis organel yang disebut plastid pada tumbuhan
dan alga.Kloroplas mengandung klorofil, pigmen
hijau yang menangkap energi cahaya untuk fotosintesis,
yaitu serangkaian reaksi yang mengubah energi cahaya menjadi energi kimiawi
yang disimpan dalam molekul karbohidrat dan senyawa organik lain.
Satu sel alga uniseluler dapat memiliki satu kloroplas
saja, sementara satu sel daun dapat memiliki
20 sampai 100 kloroplas. Organel ini cenderung lebih besar daripada mitokondria, dengan panjang 5–10 µm atau lebih.
Kloroplas biasanya berbentuk seperti cakram dan, seperti mitokondria, memiliki
membran luar dan membran dalam yang dipisahkan oleh ruang antarmembran. Membran
dalam kloroplas menyelimuti stroma, yang memuat berbagai enzim yang bertanggung jawab membentuk karbohidrat
dari karbon dioksida dan air dalam fotosintesis. Suatu sistem membran dalam
yang kedua di dalam stroma terdiri dari kantong-kantong pipih disebut tilakoid
yang saling berhubungan. Tilakoid-tilakoid membentuk suatu tumpukan yang
disebut granum (jamak, grana). Klorofil terdapat pada membran
tilakoid, yang berperan serupa dengan membran dalam mitokondria, yaitu terlibat
dalam pembentukan ATP. Sebagian ATP yang
terbentuk ini digunakan oleh enzim di stroma untuk mengubah karbon dioksida
menjadi senyawa antara berkarbon tiga yang kemudian dikeluarkan ke sitoplasma dan diubah menjadi karbohidrat.
Sama seperti mitokondria, kloroplas juga memiliki DNA dan ribosomnya
sendiri serta tumbuh dan memperbanyak dirinya sendiri. Kedua organel ini juga
dapat berpindah-pindah tempat di dalam sel.
Peroksisom
Peroksisom berukuran mirip
dengan lisosom dan dapat ditemukan dalam semua
sel eukariota. Organel
ini dinamai demikian karena biasanya mengandung satu atau lebih enzim yang terlibat dalam reaksi oksidasi menghasilkan hidrogen
peroksida (H2O2). Hidrogen peroksida merupakan
bahan kimia beracun, namun di dalam peroksisom senyawa ini digunakan untuk
reaksi oksidasi lain atau diuraikan menjadi air
dan oksigen. Salah satu tugas peroksisom
adalah mengoksidasi asam lemak panjang menjadi
lebih pendek yang kemudian dibawa ke mitokondria
untuk oksidasi sempurna.Peroksisom pada sel hati
dan ginjal juga mendetoksifikasi berbagai
molekul beracun yang memasuki darah, misalnya alkohol. Sementara itu, peroksisom pada biji tumbuhan berperan penting mengubah cadangan lemak biji menjadi karbohidrat
yang digunakan dalam tahap perkecambahan.
Sitoskeleton
Sitoskeleton eukariota terdiri dari tiga jenis serat protein,
yaitu mikrotubulus, filamen
intermediat, dan mikrofilamen. Protein
sitoskeleton yang serupa dan berfungsi sama dengan sitoskeleton eukariota
ditemukan pula pada prokariota. Mikrotubulus
berupa silinder berongga yang memberi bentuk sel, menuntun gerakan organel, dan membantu pergerakan kromosom pada saat pembelahan
sel. Silia dan flagela eukariota, yang merupakan alat bantu
pergerakan, juga berisi mikrotubulus. Filamen intermediat mendukung bentuk sel
dan membuat organel tetap berada di tempatnya. Sementara itu, mikrofilamen,
yang berupa batang tipis dari protein aktin,
berfungsi antara lain dalam kontraksi otot
pada hewan, pembentukan pseudopodia untuk pergerakan sel ameba, dan aliran bahan di dalam sitoplasma sel tumbuhan.
Sejumlah protein motor menggerakkan berbagai organel
di sepanjang sitoskeleton eukariota. Secara umum, protein motor dapat
digolongkan dalam tiga jenis, yaitu kinesin, dinein, dan miosin.
Kinesin dan dinein bergerak pada mikrotubulus, sementara miosin bergerak pada
mikrofilamen.
Komponen ekstraseluler
Sel-sel hewan dan tumbuhan disatukan sebagai jaringan terutama oleh matriks
ekstraseluler, yaitu jejaring kompleks molekul yang disekresikan sel dan berfungsi utama membentuk
kerangka pendukung. Terutama pada hewan, sel-sel pada kebanyakan jaringan
terikat langsung satu sama lain melalui sambungan
sel.
Matriks ekstraseluler hewan
Matriks ekstraseluler sel hewan berbahan penyusun utama glikoprotein (protein
yang berikatan dengan karbohidrat pendek), dan
yang paling melimpah ialah kolagen yang
membentuk serat kuat di bagian luar sel. Serat kolagen ini tertanam dalam
jalinan tenunan yang terbuat dari proteoglikan,
yang merupakan glikoprotein kelas lain Variasi jenis dan susunan molekul
matriks ekstraseluler menimbulkan berbagai bentuk, misalnya keras seperti
permukaan tulang dan gigi, transparan seperti kornea
mata, atau berbentuk seperti tali kuat pada otot.
Matriks ekstraseluler tidak hanya menyatukan sel-sel tetapi juga memengaruhi perkembangan, bentuk, dan perilaku sel.
Dinding sel tumbuhan
Dinding sel tumbuhan merupakan matriks
ekstraseluler yang menyelubungi tiap sel tumbuhan.Dinding ini tersusun
atas serabut selulosa yang tertanam dalam polisakarida lain serta protein
dan berukuran jauh lebih tebal daripada membran
plasma, yaitu 0,1 µm hingga beberapa mikrometer. Dinding sel melindungi
sel tumbuhan, mempertahankan bentuknya, dan mencegah pengisapan air secara berlebihan.
Sambungan antarsel
Sambungan sel (cell
junction) dapat ditemukan pada titik-titik pertemuan antarsel atau antara
sel dan matriks ekstraseluler. Menurut
fungsinya, sambungan sel dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu (1)
sambungan penyumbat (occluding junction), (2) sambungan jangkar (anchoring
junction), dan (3) sambungan pengomunikasi (communicating junction).
Sambungan penyumbat menyegel permukaan dua sel menjadi satu sedemikian rupa
sehingga molekul kecil sekalipun tidak dapat lewat, contohnya ialah sambungan
ketat (tight junction) pada vertebrata.
Sementara itu, sambungan jangkar menempelkan sel (dan sitoskeletonnya) ke sel tetangganya atau ke matriks
ekstraseluler. Terakhir, sambungan pengomunikasi menyatukan dua sel tetapi
memungkinkan sinyal kimiawi atau listrik melintas antarsel tersebut. Plasmodesmata merupakan contoh sambungan
pengomunikasi yang hanya ditemukan pada tumbuhan.
Fungsi Metabolisme
Keseluruhan reaksi kimia
yang membuat makhluk hidup mampu melakukan
aktivitasnya disebut metabolisme, dan sebagian
besar reaksi kimia tersebut terjadi di dalam sel. Metabolisme yang terjadi di
dalam sel dapat berupa reaksi katabolik, yaitu
perombakan senyawa kimia untuk menghasilkan energi
maupun untuk dijadikan bahan pembentukan senyawa lain, dan reaksi anabolik, yaitu reaksi penyusunan komponen sel.
Salah satu proses katabolik yang merombak molekul makanan untuk menghasilkan
energi di dalam sel ialah respirasi seluler,
yang sebagian besar berlangsung di dalam mitokondria
eukariota atau sitosol
prokariota dan menghasilkan ATP. Sementara itu, contoh proses anabolik ialah sintesis protein yang berlangsung pada ribosom dan membutuhkan ATP.
Komunikasi sel
Kemampuan sel untuk berkomunikasi, yaitu menerima dan
mengirimkan 'sinyal' dari dan kepada sel lain, menentukan interaksi antarorganisme uniseluler serta mengatur fungsi dan perkembangan
tubuh organisme multiseluler. Misalnya, bakteri berkomunikasi satu sama lain dalam proses quorum sensing (pengindraan kuorum) untuk
menentukan apakah jumlah mereka sudah cukup sebelum membentuk biofilm, sementara sel-sel dalam embrio hewan berkomunikasi untuk koordinasi proses diferensiasi menjadi berbagai jenis sel.
Komunikasi sel terdiri dari proses transfer sinyal antarsel
dalam bentuk molekul (misalnya hormon) atau
aktivitas listrik, dan transduksi sinyal di
dalam sel target ke molekul yang menghasilkan respons sel. Mekanisme transfer
sinyal dapat terjadi dengan kontak antarsel (misalnya melalui sambungan pengomunikasi), penyebaran molekul sinyal
ke sel yang berdekatan, penyebaran molekul sinyal ke sel yang jauh melalui
saluran (misalnya pembuluh darah), atau
perambatan sinyal listrik ke sel yang jauh (misalnya pada jaringan otot polos). Selanjutnya, molekul sinyal menembus membran secara langsung, lewat melalui kanal
protein, atau melekat pada reseptor berupa protein transmembran pada permukaan
sel target dan memicu transduksi sinyal di dalam sel. Transduksi sinyal ini
dapat melibatkan sejumlah zat yang disebut pembawa pesan kedua (second
messenger) yang konsentrasinya meningkat setelah pelekatan molekul sinyal
pada reseptor dan yang nantinya meregulasi aktivitas protein lain di dalam sel.
Selain itu, transduksi sinyal juga dapat dilakukan oleh sejumlah jenis protein
yang pada akhirnya dapat memengaruhi metabolisme, fungsi, atau perkembangan
sel.
Siklus sel
Setiap sel berasal dari pembelahan
sel sebelumnya, dan tahap-tahap kehidupan sel antara pembelahan sel ke
pembelahan sel berikutnya disebut sebagai siklus sel.
Pada kebanyakan sel, siklus ini terdiri dari empat proses terkoordinasi, yaitu
pertumbuhan sel, replikasi DNA, pemisahan DNA
yang sudah digandakan ke dua calon sel anakan, serta pembelahan sel. Pada bakteri, proses pemisahan DNA ke calon sel anakan
dapat terjadi bersamaan dengan replikasi DNA, dan siklus sel yang berurutan dapat
bertumpang tindih. Hal ini tidak terjadi pada eukariota
yang siklus selnya terjadi dalam empat fase terpisah sehingga laju pembelahan
sel bakteri dapat lebih cepat daripada laju pembelahan sel eukariota. Pada
eukariota, tahap pertumbuhan sel umumnya terjadi dua kali, yaitu sebelum
replikasi DNA (disebut fase G1, gap 1) dan sebelum
pembelahan sel (fase G2). Siklus sel bakteri tidak wajib
memiliki fase G1, namun memiliki fase G2 yang disebut
periode D. Tahap replikasi DNA pada eukariota disebut fase S (sintesis),
atau pada bakteri ekuivalen dengan periode C. Selanjutnya, eukariota memiliki
tahap pembelahan nukleus yang disebut fase
M (mitosis).
Peralihan antartahap siklus sel dikendalikan oleh suatu
perlengkapan pengaturan yang tidak hanya mengoordinasi berbagai kejadian dalam
siklus sel, tetapi juga menghubungkan siklus sel dengan sinyal ekstrasel yang mengendalikan perbanyakan sel.
Misalnya, sel hewan pada fase G1
dapat berhenti dan tidak beralih ke fase S bila tidak ada faktor pertumbuhan
tertentu, melainkan memasuki keadaan yang disebut fase G0 dan tidak
mengalami pertumbuhan maupun perbanyakan. Contohnya adalah sel fibroblas yang hanya membelah diri untuk memperbaiki
kerusakan tubuh akibat luka. Jika pengaturan
siklus sel terganggu, misalnya karena mutasi,
risiko pembentukan tumor—yaitu perbanyakan sel
yang tidak normal—meningkat dan dapat berpengaruh pada pembentukan kanker.
Diferensiasi sel
Diferensiasi sel
menciptakan keberagaman jenis sel yang muncul selama perkembangan
suatu organisme multiseluler dari sebuah sel
telur yang sudah dibuahi. Misalnya, mamalia
yang berasal dari sebuah sel berkembang menjadi suatu organisme dengan ratusan
jenis sel berbeda seperti otot, saraf, dan kulit.
Sel-sel dalam embrio yang sedang berkembang
melakukan pensinyalan sel yang memengaruhi ekspresi gen sel dan menyebabkan diferensiasi
tersebut.
Kematian sel terprogram
Sel dalam organisme multiseluler
dapat mengalami suatu kematian terprogram yang berguna untuk pengendalian
populasi sel dengan cara mengimbangi perbanyakan sel, misalnya untuk mencegah
munculnya tumor. Kematian sel juga berguna
untuk menghilangkan bagian tubuh yang tidak diperlukan. Contohnya, pada saat
pembentukan embrio, jari-jari pada tangan atau
kaki manusia pada mulanya saling menyatu, namun kemudian terbentuk berkat
kematian sel-sel antarjari. Dengan demikian, waktu dan tempat terjadinya
kematian sel, sama seperti pertumbuhan dan pembelahan sel, merupakan proses
yang sangat terkendali. Kematian sel semacam itu terjadi dalam proses yang
disebut apoptosis yang dimulai ketika suatu
faktor penting hilang dari lingkungan sel atau ketika suatu sinyal internal diaktifkan. Gejala awal apoptosis
ialah pemadatan nukleus dan fragmentasi DNA
yang diikuti oleh penyusutan sel.
Kajian tentang sel
Biologi sel modern
berkembang dari integrasi antara sitologi, yaitu kajian tentang struktur sel,
dan biokimia, yaitu kajian tentang molekul dan proses kimiawi metabolisme. Mikroskop
merupakan peralatan yang paling penting dalam sitologi, sementara pendekatan
biokimia yang disebut fraksinasi sel juga
telah menjadi sangat penting dalam biologi sel.
Mikroskopi
Mikroskop berperan dalam
kajian tentang sel sejak awal penemuannya. Jenis mikroskop yang digunakan para
ilmuwan Renaisans dan yang kini masih banyak
digunakan di laboratorium ialah mikroskop cahaya.
Cahaya tampak dilewatkan menembus spesimen dan
kemudian lensa kaca yang merefraksikan cahaya sedemikian rupa sehingga citra
spesimen tersebut diperbesar ketika diproyeksikan ke mata pengguna mikroskop.
Namun demikian, mikroskop cahaya memiliki batas daya urai, yaitu tidak mampu
menguraikan perincian yang lebih halus dari kira-kira 0,2 µm (ukuran bakteri kecil). Pengembangan teknik penggunaan
mikroskop cahaya sejak awal abad ke-20 melibatkan usaha untuk meningkatkan
kontras, misalnya dengan pewarnaan atau pemberian zat fluoresen. Selanjutnya, biologi
sel mengalami kemajuan pesat dengan penemuan mikroskop
elektron yang menggunakan berkas elektron
sebagai pengganti cahaya tampak dan dapat memiliki resolusi (daya urai) sekitar
2 nm. Terdapat dua jenis dasar mikroskop elektron, yaitu mikroskop elektron
transmisi (transmission electron microscope, TEM) dan mikroskop elektron
payar (scanning electron microscope, SEM). TEM terutama digunakan untuk
mengkaji struktur internal sel, sementara SEM sangat berguna untuk melihat
permukaan spesimen secara rinci.
Fraksinasi sel
Fraksinasi sel ialah
teknik untuk memisahkan bagian-bagian sel. Secara umum, teknik ini melibatkan
homogenisasi, yaitu pemecahan sel secara halus dengan bantuan blender atau alat ultrasuara, dan sentrifugasi, yaitu pemisahan komponen-komponen sel
oleh gaya sentrifugal dalam alat sentrifuge, alat seperti komidi
putar untuk tabung reaksi yang dapat berputar pada berbagai kecepatan.
Sentrifuge yang paling canggih, yang disebut ultrasentrifuge, dapat berputar
secepat 80.000 rotasi per menit (rpm) dan
memberikan gaya pada partikel-partikel sampel hingga 500.000 kali gaya
gravitasi bumi (500.000 g). Pemutaran homogenat di dalam sentrifuge akan
memisahkan bagian-bagian sel ke dalam dua fraksi, yaitu pelet, yang terdiri
atas struktur-struktur lebih besar yang terkumpul di bagian bawah tabung
sentrifuge, dan supernatan, yang terdiri atas bagian-bagian sel yang lebih
kecil yang tersuspensi dalam cairan di atas pelet tersebut. Supernatan ini
disentrifugasi kembali dan prosesnya diulangi, dengan kecepatan putaran yang
semakin tinggi pada setiap tahap, sehingga komponen sel yang semakin lama
semakin kecil terkumpul dalam pelet yang berurutan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar